-

KETAHANAN PANGAN DESA

Persiapan Penanaman Jagung

KETAHANAN PANGAN DESA

Ayam Petelur Desa

BUDIDAYA IKAN NILA

ketahanan Pangan Sistem Bioflok.

BUDIDAYA SELADA

Ketahanan Pangan Sistem Hidroponik.

Rabu, 30 September 2026

Kesiapan Kemendes PDT mendukung perluasan Program Perlindungan Sosial (Perlinsos) dengan melibatkan melibatkan Pendamping Desa di 37 provinsi sebagai agen Perlinsos

Jakarta - detikcom - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto mengatakan bahwa Kemendes PDT siap mendukung penuh dan menyukseskan program perlindungan sosial (Perlinsos) untuk masyarakat.

Untuk itu, Kemendes PDT akan melibatkan 25.380 pendamping desa yang tersebar di 37 Provinsi ini untuk menjadi agen Perlinsos yang diharapkan bisa membantu masyarakat untuk mendaftar atau memperbaiki data bantuan sosial.

Kemendes PDT akan berperan sebagai penyedia data pendukung untuk memperkuat penargetan, desain intervensi dan efektivitas program pengentasan kemiskinan berbasis desa.

"Jadi kami memang punya pendamping desa, yang aktif sekarang hampir 26 ribu tersebar di seluruh Indonesia. Fungsinya memang sangat relevan dengan yang kita bahas hari ini," ungkap Yandri dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).Hal tersebut ia katakan saat menghadiri rapat tingkat Menteri dalam rangka perluasan Perlinsos dan rencana implementasi pada tahun 2027 di gedung Aneka Bhakti Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu (30/9).

Lebih lanjut, Yandri mengatakan setidaknya ada enam tugas dan peran strategis Pendamping Desa dalam mendukung Perlinsos seperti halnya fasilitasi identifikasi masyarakat rentan, penguatan akurasi data sosial, edukasi dan sosialisasi program Perlinsos, fasilitasi akses layanan Perlindungan sosial, penguatan pengawasan partisipatif dan penguatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perluasan Perlinsos menjadi prioritas nasional untuk menurunkan kemiskinan dan kerentanan masyarakat secara lebih cepat dan tepat sasaran. Ketersediaan data yang akurat dan mutakhir akan menjadi krusial agar program Perlinsos tepat sasaran, inklusif dan berkelanjutan.

"Intinya kami siap bergerak dan kami akan segera melakukan hal-hal teknis. Kita dukung penuh, kami akan bergerak cepat untuk perluasan Perlinsos," ujar mantan Wakil Ketua MPR RI ini.Sementara itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa perluasan Perlinsos dilakukan sebagai upaya untuk memberikan rasa keadilan dan kebersamaan untuk masyarakat di Indonesia.

Oleh karena itu, ia meminta semua pihak di Kementerian/Lembaga beserta TNI dan Polri untuk bersatu padu dalam menyukseskan perluasan Perlinsos ini. Semua pihak diharapkan menjadi agen perluasan Perlinsos yang akan terus melakukan pendataan hingga akhir tahun 2026, sehingga pada 2027, bantuan sosial yang diberikan kepada masyarakat bisa tepat sasaran.

"Semua Kementerian/Lembaga, TNI, Polri harus bersatu padu. Ini akan menimbulkan rasa keadilan dan kebersamaan di Republik ini. Kita singkirkan perbedaan-perbedaan, kita konsentrasi untuk ini (Perlinsos). Karena ini merupakan basis dari pemerintah Presiden Prabowo, sukses besar dari pemerintah ini kalau ini bisa kita laksanakan," ujar Luhut.

Sebagai informasi, turut hadir dalam rapat tingkat Menteri ini yaitu Menteri Koordinator (Menko) Pemberdayaan Masyarakat (PM) Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Rini Widyantini, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar serta kepala lembaga terkait.

Lebih lanjut, turut hadir mendampingi Yandri dalam kegiatan ini yaitu Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan Nugroho Setijo Nagoro dan Dirjen Pengembangan Investasi dan Ekonomi Desa Tabrani.

 

Minggu, 27 September 2026

Perpustakaan Desa Menjadi Promotor Penggerak Minat Baca dan Kreativitas Anak di Era Digital

Perpustakaan Desa memiliki peran strategis sebagai salah satu sarana pendidikan nonformal dan pusat literasi masyarakat di tingkat desa. Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, keberadaan Perpustakaan Desa diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tetapi juga mampu menjadi promotor dan penggerak budaya membaca serta kreativitas anak, khususnya anak usia dini.

Perpustakaan Desa hadir sebagai ruang Alternatif yang ramah anak, edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Melalui kegiatan membaca bersama, pengenalan buku cerita bergambar, mendongeng, permainan edukatif, menggambar, mewarnai, serta berbagai aktivitas kreativitas lainnya, anak-anak dapat diarahkan untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar sekaligus bermain yang positif. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan sejak usia dini

Kegiatan penggerakan minat baca Juga melibatkan Pemerintah Desa, pengelola Perpustakaan Desa, kader literasi, orang tua, guru PAUD, tokoh masyarakat, serta masyarakat desa. Kolaborasi berbagai pihak menjadi penting karena pembentukan kebiasaan membaca tidak dapat dilakukan hanya oleh pengelola perpustakaan. Anak membutuhkan dukungan dan keteladanan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar kegiatan membaca menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Dalam pelaksanaannya, Perpustakaan Desa dapat menyusun berbagai program sederhana namun berkelanjutan. Salah satunya adalah menyediakan waktu khusus membaca bagi anak, membuat pojok baca yang menarik, mengadakan kegiatan bercerita, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk menampilkan hasil kreativitasnya. Koleksi buku juga dapat disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, terutama buku cerita bergambar, pengetahuan dasar, lingkungan, budaya lokal, dan cerita yang mengandung nilai pendidikan.

Tujuan utama kegiatan ini adalah membangun kembali ketertarikan anak terhadap buku sekaligus menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini. Dengan membaca, anak memperoleh kesempatan untuk mengenal berbagai pengetahuan, memperkaya kosakata, meningkatkan daya imajinasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi. Sementara melalui kegiatan kreativitas, anak dapat belajar mengekspresikan gagasan, bekerja sama, percaya diri, dan menghasilkan karya sesuai dengan kemampuan mereka.

Perpustakaan Desa juga tidak harus diposisikan sebagai pesaing teknologi digital. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pendukung literasi apabila digunakan secara tepat dan dalam pendampingan orang dewasa. Dengan demikian, anak diarahkan untuk memiliki keseimbangan antara aktivitas digital dan kegiatan membaca, belajar, bermain, serta berkarya secara langsung.

Melalui langkah tersebut, Perpustakaan Desa diharapkan mampu menjadi promotor penggerak literasi desa yang aktif dan dekat dengan masyarakat. Kehadiran perpustakaan bukan sekadar menyediakan buku, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak untuk belajar, membaca, berimajinasi, dan berkarya.

Dengan dukungan Pemerintah Desa, pengelola perpustakaan, orang tua, tenaga pendidik, dan masyarakat, gerakan ini dapat menjadi langkah awal dalam memulihkan minat membaca anak usia dini di tengah gempuran era digital. Perpustakaan Desa diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki budaya membaca, kreativitas, pengetahuan, dan kecintaan terhadap proses belajar sepanjang hayat.